Sabtu, 15 Oktober 2016

part 2 cerita lucu

Cerita Lucu Mukidi: Bikin Kondom Di ruang operasi rumah sakit, seorang dokter bedah melihat Mukidi yang akan dioperasi kelihatan gelisah. Untuk menenangkannya, Mukidi diajak bercanda. Dokter: “Bapak tau cara membuat sarung tangan karet yang sedang saya pakai ini?” Mukidi: “Tidak dok.” (Sambil memberi isyarat dengan tangannya). Dokter: “Begini Pak. Karet mentah direbus sampai meleleh lalu pegawai pabrik rame2 mencelupkan tangan ke dalam cairan karet itu. Setelah itu tangan segera diangkat untuk diangin-anginkan. Tak lama kemudian jadilah sarung tangan seperti ini.” Mukidi: (Tersenyum mendengar penjelasan sang dokter). (Beberapa saat kemudian ). Mukidi: (Tertawa terpingkal-pingkal). Dokter: (Heran) “Mengapa Anda tertawa seperti itu?” Mukidi: “Dengar cerita dokter tadi, saya lalu membayangkan bagaimana cara membuat kondom.” Dokter: (Bengong). 5. Cerita Lucu Mukidi: Istri Mukidi Pemalu Suatu hari Markonah, istri Mukidi bercerita pada suaminya. Markonah: “Mas tadi waktu aku buka BH di depan kaca yang di pinggir jendela. Eh ngga tahunya ada cowok ganteng lihatin aku terus.” Mukidi: “Terus apa yang kamu lakukan?” Markonah: “Aku malu banget mas, lalu aku tutupin aja muka aku pake BH.” Mukidi: “Dasar dodol.” Markonah: “Bukan dodol Mas. Tapi aku malu.” 6. Cerita Lucu Mukidi: Tidak Ada Kembalian Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah. Mukidi: “Bu, rujak satu, berapa?” Markonah: “Sepoloh rebu, cak.” Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah: “Cak, tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya,” (Sambil menunjuk belahan dada atas). Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. Mukidi: “Nggak ada Bu.” Markonah: (Kasih instruksi) “Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri.” Mukidi: “Nggak ada Bu.” Markonah: “Ya sudah.” Mukidi: “Lah terus mana kembalian saya?” Markonah: (Dengan enteng berkata) “Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis.” Mukidi: (Hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

asoy