Selasa, 25 Oktober 2016

jam pasir

SIMBOLISME JAM PASIR Sebelum mengenal jam, manusia menggunakan “jam pasir” (hourglass) untuk mengukur waktu. Bejana jam pasir terdiri dari dalam tiga bagian: bagian atas, bagian bawah, dan selat atau rongga sempit yang menghubungkan bagian atas dengan bagian bawah. Untuk mengukur waktu, pasir dalam jumlah tertentu diletakkan di bagian atas yang segera akan mengalir ke bagian bawah melalui rongga sempit itu. Waktu ditentukan berdasarkan durasi dari keseluruhan proses perpindahan pasir dari bagian atas ke bagian bawah.
Bagi kebanyakan kita yang terlanjur terdidik “modern”, fenomena jam pasir cenderung ditanggapi sebagai sekadar penggalan sejarah peradaban manusia; tidak ada yang istimewa mengenainya. Lain halnya bagi yang memiliki bakat kepekaan spiritual yang istimewa[1] ; bagi mereka fenomena jam pasir mengandung sejumlah simbolisme yang layak untuk direnungkan. Simbol Waktu dan Kematian Aliran pasir yang mengukur durasi sungguh menunjukkan waktu dalam aspeknya yang fatal dan tak_dapat_dibailk (irreversible), tidak dapat dihentikan dan tidak ada yang dapat menganulir finalitasnya. Sterilitas pasir mengungkapkan “keremehan duniawi” (earthly accidents, tidak substantif), dan berakhirnya aliran pasir mengingatkan kita akan berhentinya detak jantung, berakhirnya kehidupan, terminal terakhir kita yang ditakdirkan merangkak sejak lahir ke arah kematian (istilah Shakespeare), penjemputan ‘malaikat maut’, ajal, atau apapun istilahnya. Simbol Dua Kutub Kenapa pasir itu turun? Karena atraksi atau daya tarik gravitasi bumi yang mengarah ke bawah. Inilah satu-satunya kutub daya tarik (pole of attraction) yang dapat ditawarkan pada ranah fisikal. Tetapi selain kutub “bawah” sebenarnya ada kutub “atas”: yang pertama menarik ke arah bawah (descending), ke arah “bumi”, ke luar (outward) atau ke arah kesenangan_sementara duniawi (earthy joys), yang kedua ke arah atas (ascending), ke arah “langit”, ke dalam (inward) atau arah kebahagiaan_abadi surgawi (heavenly pleasure). Apa yang menjadi daya tarik gerak ke atas? Kebenaran (Truth, dengan T besar) dan Kecantikan (Beauty, dengan B besar), dua sisi dari Realitas yang sama. Terserah Kita Pesan semua agama mungkin dapat disederhanakan sebagai pengingat adanya kutub atas itu, mendorong untuk -serta memberikan petunjuk (hudâ) mengenai cara- meresponsnya secara positif dan memadai. Kita dianugrahi kapasitas -dengan tetap membutuhkan anugrah-Nya- untuk itu; syaratnya, kita menghendakinya. Jadi, pada analisis terakhir: terserah kita! Wallahu’alam….@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

asoy